<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<?xml-stylesheet title="XSL formatting" type="text/xsl" href="/atom.xsl" ?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xml:lang="en">
<title>GELIAT</title>
<link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://sastrawanlampung.blogspirit.com/atom.xml"/>
<link rel="alternate" type="text/html" href="http://sastrawanlampung.blogspirit.com/" />
<subtitle>situs aktivitas sastrawan lampung dari kaca mata budi hatees</subtitle>
<updated>2006-11-24T09:19:32+01:00</updated>
<rights>All Rights Reserved blogSpirit</rights>
<generator uri="http://www.blogspirit.com/" version="6.0">blogSpirit</generator>
<id>http://sastrawanlampung.blogspirit.com/</id>
<entry>
<author>
<name>budi hatees</name>
<uri>http://sastrawanlampung.blogspirit.com/about.html</uri>
</author>
<title>Sejarah Sastra Lampung</title>
<link rel="alternate" type="text/html" href="http://sastrawanlampung.blogspirit.com/archive/2006/11/24/sejarah-sastra-lampung.html" />
<id>tag:sastrawanlampung.blogspirit.com,2006-11-24:1089111</id>
<updated>2006-11-24T09:19:32+01:00</updated>
<published>2006-11-24T09:19:32+01:00</published>
<category term="Berita" scheme="http://www.blogspirit.com/ns/types#category" />
<summary> Bicara soal sejarah sastra Lampung di hadapan para peneliti sastra, saya...</summary>
<content type="html" xml:base="http://sastrawanlampung.blogspirit.com/">
Bicara soal sejarah sastra Lampung di hadapan para peneliti sastra, saya ditembaki dengan sekian banyak pertanyaan. Untungnya, saya memang punya banyak data soal sejarah itu disamping sejarah sastra Lampung memang belum panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Generasi sastra Lampung--bisa dibilang--baru tiga generasi. Generasi pertama, muncul pada dekade 1980-an dengan tokohnya seperti Iwan Nurdaya Djaffar, Isbedy Stiawan ZS, Djuhairi Basri, Naim Emel Prahana, A.M. Zoelqornaen, Ahmad Rich, Sugandi Putra, dan Rustam Effendy&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama-nama ini sebagian besar mengawali karier kesastrawanan di luar Lampung. Mereka menggeliat di daerah-daerah tempat mereka melanjutkan studi--meskipun tak sedikit dari mereka yang memang menulis sejak masih SMA. Tapi, dunia pendidikan tinggi (juga iklim intelektualitas di tempat mereka kuliah)--baik dari Bandung, Jogjakarta, maupun Jakarta--menempa mereka menjadi sastrawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika selesai kuliah, mereka kembali ke Lampung. Tetap berkreatifitas sebagai sastrawan--sebagian besar sebagai penyair, kemudian penulis cerpen. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah nama-nama tersebut di atas, beberapa diantaranya berhasil mencari bibit baru dan melahirkan generasi. Isbedy Stiawan ZS sangat berperan dalam proses kreatif Saiful Irba Tanpaka (saat ini Ketua Harian Dewan Kesenian Lampung).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Produktivitas yang diperlihat para sastrawan ini, terutama di dalam dunia penulisan puisi, telah merangsang banyak generasi muda untuk melahirkan generasi sastra baru. Pada dekade 1990-an, terutama dari kalangan mahasiswa yang berkreativitas di SKM Teknora--medianya mahasiswa Universitas Lampung--lahir sastrawan-sastrawan baru yang digagas tiga musketer Unila (Tiga Musketer dari Unila: Panji Utama, Ahmad Julden Erwin, dan Iswadi Pratama). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sajak-sajak Panji Utama banyak dipublikasikan di koran-koran nasional. Ia juga m,enerbitkan buku puisi secara indi. Tapi, pasca pertemuan Mimbar Penyair 2001, Panji Utama menarik diri dari dinamika kesusastraan. Ia menenggelamkan diri ke dalam urusan ummat manusia selaku pengelola Dompet Dhuafa, kemudian ia membentuk Lampung Peduli. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak itu, Panji Utama jarang berkarya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang hampir mirip menimpa Ahmad Yulden Erwin. Meskipun tak sepenuhnya meninggalkan dunia kepenyairan, AJE --itu nama panggilannya-- menghabiskan waktunya untuk urusan publik selaku pekerja NGo. Ia juga menjadi pendiri Koalisi Anti Korupsi (KoAK) Lampung.  Terakhir, AJE menikmati hidup yang tenang bersama pemikiran-pemikiran sufistik yang kemudian diterbitkannya menjadi buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan pilihan Iswadi Pratama. Ia tetap kokoh sebagai penyair Lampung, meskipun harus membagi kreativitas sebagai pekerja teater dalam kapasistas pendiri Teater Satu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, dinamika yang dibawa Tiga Musketer Unila ini, sangat berarti bagi perkembangan kesusastran di Lampung. Lewat SKM Teknora, mereka menggebrak dunia kesusastraan dengan menerbitkan antologi puisi &lt;em&gt;Daun-Daun Jatuh, Tunas-Tunas Tumbuh &lt;/em&gt;(1995).  Buku ini menampung geliat generasi sastrawan Lampung. Dari antologi inilah kemudian lahir penyair-penyair yang kelak memberi warna berbeda bagi kesusastran Lampung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah generasi periode kedua kesastrawanan di Lampung yang disemarakai: Panji Utama, Ahmad Julden Erwin, Iswadi Pratama, Udo Z. Karzi, Buddy LPG, Didi Pramudya, Kuswinarto, Rifian A. Chepy, dan Ivan Sumantri Bonang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar nama-nama itu, ada nama lain seperti Imas Sobaria, Iin Mutmainah, Gunawan Parrikhesit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dekade 1990-an ini, Oyos Saroso HN dan Budi Hatees masuk ke Lampung. Oyos dan Budi dikenal sebagai bagian dari dinamika kesusastran di Jakarta. Keduanya masuk ke Lampung dengan cara berbeda dan sama-sama menjadi wartawan Lampung Post.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya bicara &lt;em&gt;Dinamika Kesusastraan Lampung, Imbas Dinamika Jakarta&lt;/em&gt;
</content>
</entry>
<entry>
<author>
<name>budi hatees</name>
<uri>http://sastrawanlampung.blogspirit.com/about.html</uri>
</author>
<title>Ngobrol Sastra di Kantor Bahasa</title>
<link rel="alternate" type="text/html" href="http://sastrawanlampung.blogspirit.com/archive/2006/11/24/ngobrol-sastra-di-kantor-bahasa.html" />
<id>tag:sastrawanlampung.blogspirit.com,2006-11-24:1089010</id>
<updated>2006-11-24T08:19:45+01:00</updated>
<published>2006-11-24T08:19:45+01:00</published>
<category term="Berita" scheme="http://www.blogspirit.com/ns/types#category" />
<summary> Telepon genggam saya mendering saat sedang menulis untuk koran tempat saya...</summary>
<content type="html" xml:base="http://sastrawanlampung.blogspirit.com/">
Telepon genggam saya mendering saat sedang menulis untuk koran tempat saya kerja. Siang hari sekitar pukul 10.00, ternyata Diah dari Kantor Bahasa, meminta saya datang menemuinya. &quot;Ada hal penting,&quot; katanya. &lt;br /&gt;Saya menyanggupi besok harinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besok harinya, saat tiba di Kantor Bahasa, Sunan, bekerja di kantor itu, menyapa saya. &quot;Mas, Budi? Sudah ditunggu Diah.&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya dibawa masuk. Begitu membuka pintu, Diah menyambut. &quot;Maaf, ini penodongan. Kami ada pertemuan rutin dua kali sebulan. Pertemuan kali ini, saya menodong Mas Budi untuk menjadi pembicara,&quot; katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya hanya tersenyum. Sebuah ruang pertemuan menyambut saya. Banyak orang telah berkumpul--semua karyawan di Kantor Bahasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kantor Bahasa di Lampung, baru ada sejak 2004. Usia yang sangat muda. Ada 25 staff, dan semua bekerja dalam kapasitas selaku peneliti bahasa dan sastra Indonesia (juga bahasa daerah). Rata-rata para peneliti di Kantor Bahasa berusia muda, energik, dan sopan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak 2004, baru sedikit sastrawan Lampung yang karya-karyanya menjadi objek penelitian Kantor Bahasa diantaranya Isbedy Stiawan ZS, Ari Pahala Hutabarat, Iswadi Pratama, M. Arman A.Z., A.M. Zoelqarnain, Syaiful Irba Tanpaka. Karya sastrawn-sastrwan lain sedang digarap seperti Iwan Nurdaya Djaffar, Budi Hatees, Dahta Gautama, Christian Heru Sucahyo, Udo Z. Kardzi, dan Y. Wibowo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Penelitian kami masih minim,&quot; kata Diah. &quot;Kami kesulitan menghubungi para sastrawan Lampung.&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menganguk, paham akan kelemahan mereka. Sebagai institusi baru, Kantor Bahasa dipenuhi oleh karyawan yang berasal dari luar Provinsi Lampung. Banyak dari mereka yang belum paham peta kesusastraan di provinsi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Mungkin Mas Budi bisa membantu,&quot; kata Diah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya &lt;em&gt;Sejarah Sastra Lampung&lt;/em&gt;
</content>
</entry>
</feed>