11/24/2006

Ngobrol Sastra di Kantor Bahasa

Telepon genggam saya mendering saat sedang menulis untuk koran tempat saya kerja. Siang hari sekitar pukul 10.00, ternyata Diah dari Kantor Bahasa, meminta saya datang menemuinya. "Ada hal penting," katanya.
Saya menyanggupi besok harinya.

Besok harinya, saat tiba di Kantor Bahasa, Sunan, bekerja di kantor itu, menyapa saya. "Mas, Budi? Sudah ditunggu Diah."

Saya dibawa masuk. Begitu membuka pintu, Diah menyambut. "Maaf, ini penodongan. Kami ada pertemuan rutin dua kali sebulan. Pertemuan kali ini, saya menodong Mas Budi untuk menjadi pembicara," katanya.

Saya hanya tersenyum. Sebuah ruang pertemuan menyambut saya. Banyak orang telah berkumpul--semua karyawan di Kantor Bahasa.

Kantor Bahasa di Lampung, baru ada sejak 2004. Usia yang sangat muda. Ada 25 staff, dan semua bekerja dalam kapasitas selaku peneliti bahasa dan sastra Indonesia (juga bahasa daerah). Rata-rata para peneliti di Kantor Bahasa berusia muda, energik, dan sopan.

Sejak 2004, baru sedikit sastrawan Lampung yang karya-karyanya menjadi objek penelitian Kantor Bahasa diantaranya Isbedy Stiawan ZS, Ari Pahala Hutabarat, Iswadi Pratama, M. Arman A.Z., A.M. Zoelqarnain, Syaiful Irba Tanpaka. Karya sastrawn-sastrwan lain sedang digarap seperti Iwan Nurdaya Djaffar, Budi Hatees, Dahta Gautama, Christian Heru Sucahyo, Udo Z. Kardzi, dan Y. Wibowo.

"Penelitian kami masih minim," kata Diah. "Kami kesulitan menghubungi para sastrawan Lampung."

Saya menganguk, paham akan kelemahan mereka. Sebagai institusi baru, Kantor Bahasa dipenuhi oleh karyawan yang berasal dari luar Provinsi Lampung. Banyak dari mereka yang belum paham peta kesusastraan di provinsi ini.

"Mungkin Mas Budi bisa membantu," kata Diah.

Selanjutnya Sejarah Sastra Lampung

08:19 Posted in Berita | Permalink | Comments (0) | Email this

The comments are closed.